Medan — Dugaan pesta narkoba kembali mencoreng wajah Kota Medan. Kali ini, sepasang muda-mudi berinisial F dan P disebut-sebut nekat menggelar aktivitas konsumsi zat terlarang di sebuah rumah kawasan Setia Budi, Medan, pada malam hari.
Aktivitas tersebut diduga berlangsung di dalam ruangan tertutup dengan menggunakan perangkat elektronik yang dikenal dengan istilah “pod getar”. Warga sekitar mengaku mulai curiga lantaran rumah tersebut kerap didatangi pada waktu tertentu dengan aktivitas yang dinilai tertutup dan mencurigakan.
Informasi yang berkembang di lapangan menyebutkan, perangkat “pod getar” diduga dipakai sebagai media konsumsi zat tertentu yang berkaitan dengan narkotika sintetis. Modus seperti ini dinilai semakin mengkhawatirkan karena penggunaan alat modern membuat praktik penyalahgunaan narkoba sulit dikenali masyarakat maupun aparat penegak hukum.
Ironisnya, dugaan aktivitas itu terjadi di tengah kawasan permukiman padat penduduk di Setia Budi Medan. Kondisi tersebut memicu keresahan warga yang khawatir lingkungan mereka menjadi lokasi peredaran maupun penyalahgunaan narkotika terselubung.
“Kalau benar itu narkoba, jelas sangat meresahkan. Sekarang bentuk alatnya makin modern dan sulit dikenali. Takutnya anak-anak muda ikut terpengaruh,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Masyarakat juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap pola baru konsumsi narkoba yang kini dibungkus dengan gaya hidup modern. Publik menilai aparat tidak cukup hanya melakukan razia sesaat, melainkan perlu menelusuri dugaan jaringan pemasok serta peredaran perangkat yang diduga digunakan sebagai sarana konsumsi zat terlarang.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait dugaan pesta narkoba yang menyeret inisial F dan P tersebut. Namun kasus ini kembali menjadi alarm keras bahwa penyalahgunaan narkoba terus bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi dan tren pergaulan urban.
Jika aparat dan pemerintah daerah tidak bergerak serius, bukan tidak mungkin praktik serupa akan semakin sulit terdeteksi dan perlahan mengakar di tengah masyarakat Kota Medan.



