Medan — Dugaan pengaturan proyek pengadaan meubelair di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara (Disdik Sumut) kembali menjadi sorotan publik. Seorang kerabat pejabat penting di Sumut berinisial DR disebut-sebut ikut berperan dalam pengondisian proyek bernilai puluhan miliar rupiah tersebut.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, proyek pengadaan meubelair untuk sekolah tingkat SMA sederajat itu saat ini tengah dalam tahap pengerjaan. Proyek tersebut diduga dikerjakan oleh seorang pengusaha berinisial Mbeng, yang disebut-sebut membawa nama oknum aparat penegak hukum untuk memperoleh pekerjaan di lingkungan Disdik Sumut.
Sumber yang enggan disebutkan namanya menyebut, DR diduga menjadi pihak yang mempertemukan Mbeng dengan seorang oknum aparatur sipil negara (ASN) berinisial Fai, yang disebut memiliki peran dalam pembagian proyek di Disdik Sumut.
Nama DR sendiri sebelumnya sempat mencuat dalam pemberitaan terkait perkara operasi tangkap tangan (OTT) yang menyeret Topan Ginting. Namun, hingga kini belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum mengenai status hukum maupun keterlibatan yang bersangkutan dalam perkara lain.
Menanggapi informasi tersebut, Koordinator Aliansi Aktivis Kota (AKTA), Ari Gusti, mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menelusuri dugaan keterlibatan pihak-pihak yang disebut dalam pengaturan proyek tersebut.
“KPK harus serius dan transparan dalam penanganan kasus korupsi yang diduga melibatkan salah satu kerabat orang nomor satu di Sumut. Segera buru dan dapatkan informasi kesaksian dari saudara DR. Jangan mau intervensi dari pihak manapun,” ujar Ari Gusti kepada wartawan, Jumat (15/5).
Menurut Ari, publik berhak mempertanyakan dugaan adanya pihak tertentu yang tetap memiliki pengaruh terhadap proyek-proyek pemerintah, meskipun namanya sebelumnya sempat dikaitkan dengan penanganan perkara oleh KPK.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, Alexander Sinulingga, S.STP., M.Si., belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi terkait dugaan tersebut. Pesan konfirmasi yang dikirim wartawan melalui aplikasi WhatsApp telah terkirim contreng dua, namun belum mendapat jawaban hingga berita ini diturunkan.



