Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan antarnegara besar makin terasa, terutama antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Konflik di berbagai kawasan juga belum menunjukkan tanda mereda. Dalam situasi seperti ini, banyak negara dipaksa memilih: ikut satu blok atau tersisih.
Tapi Indonesia tidak mengambil jalan itu.
Indonesia memilih berdiri di tengah. Tidak sepenuhnya condong ke Barat, tapi juga tidak larut ke dalam orbit Timur. Pilihan ini sering disebut sebagai politik bebas aktif. Tapi dalam praktiknya hari ini, ia jauh lebih rumit dari sekadar slogan lama.
Indonesia menjaga hubungan dagang yang erat dengan Tiongkok, namun di saat yang sama tetap menjalin kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat. Di forum regional seperti ASEAN, Indonesia mendorong stabilitas. Di tingkat global, lewat Perserikatan Bangsa-Bangsa dan G20, Indonesia berusaha menjaga agar dunia tidak makin terbelah.
Ini bukan posisi yang nyaman. Tapi justru di situlah letak keberanian Indonesia.
Yang menarik, sikap ini bukan hanya soal strategi, tapi juga soal jati diri. Sejak awal, Indonesia dibangun di atas Pancasila sebuah kesepakatan yang mencoba merangkul perbedaan. Di dalamnya ada nilai kemanusiaan, keadilan, dan persatuan. Nilai-nilai ini bukan hanya untuk konsumsi dalam negeri, tapi juga terasa dalam cara Indonesia bersikap di dunia internasional.
Ketika berbicara soal Palestina, misalnya, Indonesia konsisten mengangkat isu keadilan. Dalam krisis kemanusiaan seperti Rohingya, Indonesia juga tidak tinggal diam. Ada semacam dorongan moral yang membuat Indonesia tidak sekadar berpikir untung-rugi.
Di sisi lain, sebagai negara dengan mayoritas Muslim terbesar, Indonesia juga membawa wajah Islam yang berbeda. Islam yang tidak keras, tidak eksklusif, tapi justru terbuka dan moderat. Pendekatan ini membuat Indonesia sering berada di posisi unik: bisa berbicara dengan dunia Barat tanpa kehilangan kedekatan dengan dunia Islam.
Namun tentu saja, semua ini tidak berjalan tanpa masalah.
Menjadi penyeimbang di tengah tarik-menarik kekuatan besar bukan perkara mudah. Ada tekanan, ada kompromi, dan kadang ada dilema yang tidak bisa dihindari. Belum lagi tantangan dari dalam negeri mulai dari isu ketimpangan, intoleransi, hingga inkonsistensi kebijakan yang bisa melemahkan posisi Indonesia di mata dunia.
Di sinilah ujian sebenarnya. Apakah Indonesia benar-benar konsisten dengan nilai yang dibawanya, atau hanya sekadar memainkan citra?
Pada akhirnya, menjadi penyeimbang bukan berarti netral tanpa sikap. Justru sebaliknya, ia menuntut ketegasan dalam memilih prinsip, sekaligus keluwesan dalam bertindak.
Indonesia punya modal untuk itu. Tinggal bagaimana menjaganya tetap hidup bukan hanya dalam pidato, tapi dalam tindakan nyata.
Karena di tengah dunia yang makin bising oleh kepentingan, kadang yang paling dibutuhkan justru adalah satu suara yang tetap waras.



